EMPAT TITIK SATU

 EMPAT TITIK SATU.

Di tiga bab kemarin saya hampir kalah. Bagaimana tidak, saya berusaha  membungkus masalah besar dengan kertas kado motif polkadot. Bukan saya sekali lagi bukan saya, yang duduk ber jam-jam di belakang layar laptop di tengah gedung-gedung di Ibukota. Bukan saya sekali lagi bukan saya, yang berdesakan berebut nafas mengadu-aduh di rangkaian kepompong besi. Hampir saya kalah, sebenarnya saya sudah kalah.


Selamat datang di Empat Titik Satu.




















Komentar